From Leader To Farmers

Itmamul Khuluq B Kamsir
(Ketua Research Institute (RI) Yogyakarta,
Aktif dalam Divisi Riset NGO SOS Desa Taruna Indonesia )

Kerugian yang dirasakan petani adalah tolak ukur yang patut menjadi prioritas karena mereka-lah yang telah berjasa besar terhadap kelangsungan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Tatanan kehidupan petani yang lebih baik dan terus membaik adalah impian yang selayaknya senantiasa ada dalam diri yang mengidamkan perbaikan negeri ini.
Untukmu petani…
***

Kenyataan akan semakin memburuknya lingkungan kita, telah memberikan angin segar untuk meningkatka perhatian terhadap sektor pertanian yang merupakan komponen terbesar dalam aktivitas di negeri ini. Pertanian telah diyakini sebagai sarana yang tepat untuk mengupayakan perbaikan bagi lingkungan karena dengannya masyarakat bersinggungan dengan lingkungan secara langsung. Adanya wacana bahwa dengan kembali kepada alam merupakan langkah yang bijak dan sehat serta akan memberikan perbaikan pertanian di kemudian hari terutama untuk generasi setelah kita nantinya adalah kesempatan yang patut disyukuri karena setidaknya kesadaran untuk berpikir panjang telah ada di tengah masyarakat. Menghargai alam dengan jalan menjaga dan merawatnya seharusnya menjadi kebutuhan kita ketika kita telah lama mengambil manfaat darinya. Demikian juga dengan pihak yang telah lama bersinggungan dan berpartisipasi untuk memanfaatkan tanah (lingkungan_red) yakni petani. Meskipun mereka (petani_red) adalah pihak yang telah terlibat dalam kerusakan tanah akan tetapi mereka adalah korban kebijakan pihak yang memiliki kewenangan yang sekedar memenuhi target dengan metode yang sebenarnya merugikan petani dan lingkungan yang di dalamnya juga manusia.
Efek yang ditimbulkan sebenarnya telah banyak dirasakan oleh kebanyakan manusia. Bahkan mereka yang telah memproduksi racun juga merasakan hal yang sama. Tidak mengherankan isu pemanasan global dan issue kerusakan alam menjadi hangat dan menyenangkan untuk dibicarakan dalam berbagai kesempatan, hampir setiap kalangan seakan-akan berlomba-lomba untuk mejadi sosok pahlawan dalam mengatasi permasalahan di atas, berbagai bentuk kegiatan pun dipamerkan untuk meraih simpati dan dukungan dalam rangka berpartisipasi “menyelematkan alam”.
Semakin merebak penyakit pada manusia yang telah ditimbulkan akibat pencemaran lingkungan sebenarnya telah disadari oleh hampir semua lapisan masyarakat. Menurunya kualitas dan kuantitas yang dihasilkan oleh alam melalui pertanian telah membuat petani kian bertambah penderitaanya, jangankan untuk meningkatkan produksi, sekedar untuk mempertahankan produksi saja kebutuhan pupuk dan obat (pestisida) harus meningkat lantaran semakin meningkatnya penyakit yang diakibatkan oleh racun melalui pestisida pabrik, demikian juga semakin hilangnya unsur hara tanah. Karenanya menjadi hal yang maklum jika berharap produksi pertanian meningkat penggunaan pupuk dan pestisida pabrik harus meningkat, kian genaplah kesengsaraan petani. Padahal merekalah yang telah memenuhi kebutuhan pokok anak negeri ini.
Berawal dari kerugian yang telah sekian lama dirasakan oleh petani membuat wacana pertanian organik dan keinginan petani untuk kembali kepada pertanian yang dulu pernah dilakukan oleh orang-orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia pertanian, mereka juga telah yakin bahwa dengan pertanian yang bebas dari senyawa kimia adalah pertanian yang sehat dan akan memberikan keuntungan pada manusia, setidaknya kesehatan yang akan didapatkan bagi dirinya dan generasi setelahnya.
Pertanian organik merupakan sistem pembudidayaan tanaman dan hewan tanpa menggunakan senyawa kimia buatan, yang terbentuk dari sutau proses atau dalam suatu pabrik, meliputi senyawa-senyawa herbisida, pestisida dan pupuk (Agricuture Notes, 2002) . Menurut Sutanto (2002) Istilah pertanian organik menghimpun seluruh imajinasi yang secara serius dan bertanggungjawab menghindarkan bahan kimia dan pupuk yang bersifat meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Selain itu berusaha untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah, menggunakan sumber daya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian., dengan demikian sistem pertanian organik merupakan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan produk yang diperolehnyapun merupakan produk yang aman bagi kesehatan.
Selain itu, pertanian organik akan banyak memberikan keuntungan ditinjau dari aspek peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan produksi tanaman, serta dari aspek lingkungan dapat mempertahankan keseimbangan ekosistem, sedangkan dari aspek ekonomi akan lebih menghemat devisa negara untuk mengimpor pupuk, bahan kimia pertanian, serta memberi banyak kesempatan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.
Integrasi merupakan satu-satunya jalan dalam menggapai pertanian yang organik, keterkaitan antara pertanian dan peternakan mamang harus menjadi satu kesatuan untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Hasil limbah pertanian misalnya yang bagi masyarakat petani dianggap sebagai penggangu dan tidak memberikan manfaat yang lebih membuat langkah praktis untuk menghabiskannya dengan jalan membakarnya. Padahal tidak ada keuntungan yang didapatkan oleh petani. Asumsi yang berkembang bahwa dengan dibakar kan dihasilkan pupuk yang dengan segera bisa digunakan sebagai humus adalah asumsi yang perlu diluruskan karena dengan dibakar setidaknya ada kerugian yakni hilangnya unsure hara yang terkandung dari limbah pertanian, padahal senyawa organic masih ada dan bisa dimanfaatkan oleh ternak maupun didaur ulang untuk kompos misalnya. Kerugian lain adalah kematian beberapa mikrobia atau makhluk yang ada dalm tanah akibat panas yang ditimbulkan dari pembakaran limbah pertaian, padahal sebagian besar menguntungkan, misalnya dalam mendaur ulang maupun menguraikan senyawa yang pada awalnya tidak bisa dimanfaatkan oleh tanaman, maupun membantu penguraian tanah demikian juga makhluk hidup lain yang sebenarnya menguntungkan terutama dalam ekosistem yang ada di sawah.
Limbah peternakan juga sebenarnya bermanfaat terutama bagi pertanian, kandungan yang ada dalamnya sangat bermanfaat bagi tanaman. Masyarakat pun telah lama mengetahui akan hal ini, sehingga ini tidak asing lagi di tengah mereka. Akan tetapi metode pengomposan yang ada di tengah masyarakat memiliki kelemahan yang justru dapat merugikan bagi pertanian, pengomppsan yang tidak sempurna menyebabkan bibit penyakit dapat menular dan bibit gulma yang masuk kedalam tubuh ternak melalui pakan yang kemudian dikeluarkan dapat tumbuh kembali. Namun ketika limbah peternakan ditangani secara serius kedua kendala tersebut akan hilang dengan suhu termofilik yang dihasilkan selama proses pengomposan. Oleh karena itu, ketika system daur ulang diaplikasikan akan sangat membantu petani dalam meringankan biaya produksi, selanjutnya kemandirian petani akan lebih bias dibanggakan karena petani akan semakin kreatif dalam memanfatkan apa yang ada di lingkungan sekitar tanpa harus memasukkan sesuatu dari luar yang dikemudian hari dapat merugikan baik dari aspek kesehatan, pendapatan maupun lingkungan. Kelanjutan pun akan dapat tercapai dalam bidang pertanian.
Pertanian berkelanjutan menurut Mulongov (1993) , mempunyai lima kriteria, yaitu : sehat secara ekologis (ecologically sound), manusiawi (humane), dapat hidup secara ekonomis (economically viable), dan dapat beradaptasi (adaptable), pantas atau adil secara sosial (socially just),. Sehat secara ekologis berarti kualitas sumber daya alam terpelihara dan vitalitas semua agrosistem (manusia, hewan, dan organisme tanah) meningkat. Keadaan ini dapat dicapai jika tanah dikelola dan kesehatan tanamanam, hewan, dan manusia dipelihara melalui proses biologis. Manusiawi berarti seluruh bentuk kehidupan (manusia, hewan, dan tanaman dihargai, martabat dasar manusia diakui, hubungan diarahkan unutuk menggabungkan nilai-nilai kemanusiaan seperti, kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerjasama dan rasa simpati. Juga integritas budaya dan spritual dari masyarakat dilindungi dan dipelihara. Dapat beradaptasi berarti bahwa komonitas pedesaan mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi, antara lain; pertumbuhan populasi, kebijakan, dan permintaan yang selalu berubah. Dapat hidup secara ekonomis berarti bahwa petani dapat memproduksi tanaman/hewan dalam jumlah yang cukup unutuk memenuhi keperluannya serta memperoleh penghasilan karena mampu mengganti keperluan biaya produksi pertaniannya. Pantas atau adil secara sosial berarti bahwa sumber daya dan tenaga didistribusikan untuk keperluan dasar seluruh anggota masyarakat terpenuhi dan hak mereka atas penggunaan lahan, modal yang cukup, bantuan teknis dan kesempatan pemasaran hasil terjamin.
Semoga menjadi bahan renungan kita bersama, untuk menanggulangi permasalahan telah lama membersamai kita khususnya saudara kita yang hari-harinya di sawah-ladang. Melalui peternakan terintegerasi dengan pertanian maupun dengan yang lainnya adalah alternative yang tidak boleh ditawar untuk meningkatkan kemandirian dan kelestarian keberlanjutan pertanian, terutama generasi mendatang yang kita sangat berharap dapat lebih baik. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dalam setiap urusan kita… Aamiyn..

Pelatihan EM-4 dan KOMPOSTAR Kerjasama dengan KKN PPM UGM Unit Bayat Klaten

posting release baru….

assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh

Dunia Pertanian dan Peternakan di Indonesia tidaklah akan terlepas dari kehidupan yang sangat kompleks. Baik kalangan tua muda bahkan anak-anak sekalipun. Namun yang sangat memperihatinkan adalah minat dari kalangan pemuda yang notabene didaulat sebagai generasi penerus, ternyata hanya seneng duduk2 di Patrolan sambil gitaran….. aduh…. mau dikemanakan nasib bangsa ini mas..?

Nah kebetulan, KKN PPM UGM berinisiatif pula memberangus sikap pemuda yang seperti ini, terutama yang telah merambah di Desa seluruh Indonesia. Mereka bekerjasama dengan The Research Institute untuk mengadakan pelatihan strategis yaitu pengolahan kompos, dan pembuatan EM 4

Tawaran Penelitian

Bagi teman2 UGM yang belum memiliki judul PKM buat tahun ini, ada kegaiatan menarik yang akan didanai oleh Research Institute yakni pembuatan Bioenergell dari limbah perkebunan Mete di Kabupaten Wonogiri yang bulan-bulan depan bakalan panen raya.. so… inilah saatnya mempersiapkan PIMNAS XXII Unibraw tahun depan… lewat mana lagi kalu bukan lewat R.I…, daftarkan dirikamu.. kita butuh tim yang solid…lho

yang tertarik silakan hubungi HRD kita ya.Poeloeng Dwi Nugroho Fakultas Peternakan 2006 bisa lewat SMS pagi,siang malem di no 085729904975

  1. Mahasiswa Teknik Kimia min 2006
  2. Mahasiswa Biologi min 2005
  3. Mahasiswa TP min 2006
  4. Kalo ga da yang minat ya mhs. Fapet min 2007

The Issue of Global Warming

kengerian dalam kisah GLOBAL WARMING…. lihat videonya

Kegiatan Entrepreneurship Mahasiswa

Alhamdulillah, selain bertema kegiatan penelitian, Research Insitute S.O.S Desa Taruna Indonesia juga

kompostar

kompostar

mendidik mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang mereka dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfat semisal entrepreneurship dan technopreneurship. Gambar berikut ini adalah hasil kegaiatan yang mereka lakukan, yaitu produksi kompos kualitas premium dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak potong di Lab. Ilmu Ternak Potong Fakultas Peternakan UGM. Produk ini mereka namakan KOMPOSTAR. bagi anada yang berminat untuk memesan dalam jumlah besar dan ingin menguji keandalan produk kami, dapat menghubungi kami di line telfon bagian pemasaran KOMPOSTAR 0274 786 3196 a.n Dimas Bayu K.M

UGM Juara II Pimnas XXI Unissula

Pimnas XXI yang berlangsung mulai 14 Juli berakhir Jumat (18/7) malam. Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang meraih gelar juara umum. Mereka berhasil mengalahkan juara bertahan Universitas Gajah Mada (UGM), dan berhak memboyong piala bergilir Adikarta Kertawidya dengan menyabet empat emas dan tiga perak, dalam upacara penutupan Pimnas XXI semalam. Empat emas atau juara pertama diperoleh melalui bidang Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM Penelitian (PKMP) dan PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM). Sedang tiga perak diraih lewat PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK) dan PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM). Juara kedua, diaraih UGM dengan 4 emas yang diperoleh melalui PKM Kewirausahaan (PKMK) dan 3 PKM Penulisan Ilmiah (PKMI), 2 perak dari PKMI dan PKMT, serta 4 perunggu dari PKMT, PKMK 2 buah dan PKMI. Sedang juara tiga diraih Universitas Negeri Malang dengan 3 emas dari PKMT, PKMK, dan PKMM. Selain bidang PKM, Lomba Debat Bahasa Inggris dimenangkan oleh Universitas Diponegoro, disusul Unissula Semarang dan UGM. Untuk debat bahasa Arab juara satu diraih Universitas Muhammadiyah Malang, juara dua IPB dan juara tiga diraih bersama antara Universitas Muhammadiyah Surakarta dan UI. Sedang untuk stan pameran non produk PKM terinovatif dimenangkan oleh ITS, terkreatif Universitas Airlangga, terinteraktif IPB dan favorit Unissula Semarang. Dalam sambutannya Dirjen Dikti Dr dr Fasli Jalal Phd mengatakan, tempat penyelenggaraan Pimnas XXII tahun 2009 masih akan ditentukan, diantaranya Unibraw, Unhas, dan Unsyiah. Sementara itu Jumat sore, Menteri Kehutanan MS Kaban mencanangkan penanaman sejuta pohon yang dilakukan serentak di 101 perguruan tinggi peserta Pimnas XXI se-Indonesia. (Fani Ayudea, Fahmi Maulana /CN09)( suara merdeka)